
Malam itu
cuaca sangat tidak bersahabat. Hujan lebat, badai, teriakan petir di segala
penjuru, bahkan sebuah pohon kelapa tumbang, akibat kencangnya angin topan. Aku
merasa tidak tenang, hatiku gelisah. Kotak sempit ini membuatku semakin resah.
Aku mengumpulkan seluruh tenagaku untuk keluar dari kotak ini. Tanganku
berusaha unuk mencari celah, dan...
berhasil, pintu kotak ini terbuka juga. Akupun keluar. Aku
melihat sebuah celah, dan akupun keluar dari perut besi berkaki empat itu.
Tiba-tiba angin kencang datang menghantam badanku, kepalaku pusing, badanku
berputar melayang-layang di udara. Aku susah untuk bernafas, badanku dingin dan
basah, angin ini terus membawaku pergi dari monster berkaki empat itu. Sekilas
aku mendengar ada yang berteriak mengejarku, tapi angin ini berlari begitu
cepat. Mendadak aku terjatuh di atas genangan air. Aku meraung sekuat tenaga.
Air adalah musuh yang paling aku benci. Badanku hanyut terbawa aliran sungai.
Suaraku tenggelam dalam derasnya hujan. Nafasku sudah sesak, tenagaku sudah
habis. Apakah ini akhir hidupku? Aku pasrah.
Panasnya
mentari membuatku tersadar. Aku masih hidup. Tapi kakiku masih terasa basah.
Aku melihat ke sekeliling, dan... ternyata aku tersangkut di atas kayu yang
terapung. Aliran sungai membawaku semakin jauh. Aku berteriak sekuat tenagaku,
meminta pertolongan. Aku takut, aku kedinginan, aku kelaparan. Teriakanku
sepertinya tidak cukup terdengar oleh manusia. Aku meraung, mengumpulkan
seluruh tenagaku untuk berteriak. Upayaku berhasil. Seorang anak laki-laki
datang dan mengeluarkanku dari sungai. Kemudian anak itu pergi meninggalkanku
begitu saja. Aku mengatur nafasku, panasnya mentari membantuku untuk
mengeringkan badan. Rasa lapar kembali datang, aku berjalan melewati jalan setapak.
Terus berjalan, kemanapun kaki ini akan membawaku, mencari sesuatu yang bisa
dimakan. Setelah berjalan cukup jauh, aku melihat sesuatu yang begitu
menggiurkan. Aku berlari mengejarnya dan memanjat ke atas tumpukan plastik-plastik
dan sampah manusia. Hmmm... aku mencium bau yang bener-bener membuat perutku
menari tidak karuan, air liurku mulai meleleh. Ini dia, kepala ikan ini
terlihat sangat lezat.
Plak..
badanku terhuyung jatuh. Seorang manusia raksasa dengan perutnya yang super
besar, memukulku menggunakan tongkat panjang dengan rambut yang terurai. Sakit
sekali. Lagi-lagi manusia itu memukulku sambil berteriak-teriak memekakkan telingaku.
Aku berlari meninggalkan makananku. Bersembunyi di bawah monster besi besar
berkaki empat, monster ini sama seperti mosnter besi yang sebelumnya. Akupun
berlari meninggalkan monster ini, aku takut dimakannya. Aku terus berjalan,
mencari sesuatu untuk menenangkan perutku yang terus-terusan berisik dari tadi.
Aku sampai di sebuah jalan besar, dan aku melihat monster besi yang berlari
kesana-kemari dengan cepatnya. Aku mulai panik, badan ku mulai tegang dan
buluku berdiri saat monster besi itu menghampiriku. “Kucing bodoh, pergi
sana..hush.” Seorang manusia berteriak dari dalam monster besi itu. Aku berlari
sekuat tenaga mencari tempat yang aman. Kemanapun kakiku melangkah, selalu ada
monster besi. Terkadang mosnter besi itu mengeluarkan manusia dari dalamnya,
dan terkadang monster besi itu buang angin sembarangan dengan warnanya yang
putih. Tiba-tiba ada monster lain yang berlari dengan cepatnya, mengeluarkan
suara yang sangat memekakkan telingaku. Monster ini berkaki dua, dan ada
manusia yang menungganginya.
Perutku
tak henti-hentinya mengeluarkan suara aneh. Di ujung jalan, aku melihat
genangan air, aku minum air itu untuk menghilangkan dahagaku. Kemudia aku
berjalan lagi mencari sesuatu yang bisa dimakan. Kemudian aku melihat tumpukan
ikan kering. Aku ingin memakannya, baunya begitu menggiurkan, air liurku
meleleh. Tapi disana banyak manusia yang sibuk mondar-mandir. Tumpukan ikan
kering itu dijaga oleh seorang manusia dengan kumisnya yang tebal, tidak
seperti kumisku yang cuma ada tiga helai di bagian kiri dan kanan pipiku. Aku
berjalan pelan-pelan. Mencari kesempatan untuk menangkap ikan kering itu.
Langkahku semakin dekat, baunya menusuk sampai ke tenggorokanku, aku hampir
gila mencium bau ikan itu. Tanpa peduli apapun, aku meloncat dan ...
Plak..
Belum sempat aku mengambil ikan kering itu, tiba-tiba aku terkulai jatuh.
Manusia berkumis itu memukulku, lebih sakit dibandingkan sebelumnya. Aku
langsung kabur melarikan diri. Badanku terasa sangat lemas karna kelaparan. Aku
berjalan lagi mencari sesuatu yang bisa dimakan. Mentari sudah bersiap-siap
untuk tidur, aku belum juga menemukan sesuatu yang bisa dimakan.
Butiran
cahaya di langit , membuatku merasa tenang dan damai di malam yang sunyi ini.
Aku terus berjalan mencari tempat untuk berlindung. Kemudian aku melihat sebuah
pohon. Aku memanjat pohon itu dan memejamkan mataku.
Pagi hari
aku mencari makan kesana-kemari, tapi lagi-lagi tidak ada yang bisa kutemukan
untuk dimakan. Pukulan dan pukulan yang terus aku dapatkan. Badanku terasa
sakit-sakitan. Saat aku kembali ke pohon untuk beristirahat, tiba-tiba aku
melihat daging di tengah jalan. Aku berlari untuk mengambil daging itu,
tiba-tiba kucing lain datang. Aku tidak mau makananku diambil oleh kucing itu.
Kami sama-sama kelaparan. Kami saling cakar-cakaran untuk mempertahankan daging
itu. Aku tidak boleh kalah, daging itu harus jadi milikku. Badanku mulai berdarah.
Di tengah pertempuran, kami di usir oleh seorang anak kecil yang lucu. Aku
kabur memanjat pohon tempatku beristirahat. Lagi-lagi aku kehilangan makanan.
Aku
mendengar sebuah teriakan. “Puuuussh... sini main.” Anak tadi ternyata
mengikutiku. Aku bisa merasakan kalau anak itu adalah manusia yang baik hati.
Rambutnya seperti ekor kuda di bagian kiri dan kanan kepalanya. Pipinya bulat,
terlihat manis dan lucu. Lagi-lagi anak itu memanggilku. Tiba-tiba seorang
manusia yang lebih dewasa keluar dari monster besi dan menghampiri anak itu. “Pa
kasihan anak kucing itu luka”. Aku melihat sosok yang lebih dewasa itu dengan
seksama. Tiba-tiba aku teringat. Orang itu adalah orang yang memasukkan aku ke
dalam kotak sempit dua hari yang lalu. Orang itu mengulurkan tagannya. Dia
mengangkatku dengan penuh kelembutan. “Akhirnya kamu ketemu juga, maaf ya kamu
jadi susah seperti ini.” Aku bisa merasakan orang itu sangat baik. Aku di ajak
masuk ke dalam perut monster yang sebelumnya telah aku masuki. Ternyata monster
besi ini adalah kendaraan manusia yang bernama mobil. Saat aku keluar dari
mobil itu, aku di ajak masuk ke dalam rumah orang-orang yang baik tadi. Aku di
beri makanan enak dan di beri tempat tinggal yang bagus. Aku juga di pasangi
kalung bertuliskan “Pusshy” begitulah orang-orang baik hati itu memanggilku.
See You.. :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar